Be Positive (Covid-19)

Image

Sudah lebih dari setahun pandemi Covid-19 berlangsung dan tidak ada yang bisa menjamin kapan situasi ini akan berakhir. Menengok ke belakang, banyak orang terdekat kita yang dijangkiti oleh virus ini. Banyak dari mereka yang berhasil melawan dan sembuh, namun tidak sedikit juga yang gugur. Tidak cukup mengambil orang terkasih, Covid-19 juga mengambil zona nyaman kita. Selamat tinggal berpergian dengan bebas, tidak ada lagi pertemuan langsung tanpa rasa saling curiga bahkan cara kita kita untuk belajar maupun mencari nafkah juga dipaksa untuk menyesuaikan.

Akhir Maret 2021, saya dinyatakan positif Covid-19. Berada di tanah rantau dan terpisah dari keluarga mengharuskan saya untuk menghadai virus ini sendiri. Sembilan hari berada di rumah sakit, saya menyaksikan orang lain yang sambil terbatuk-batuk memasuki bangsal isolasi dan pasien lainnya yang mengangkat koper untuk kembali pulang. Tidak pernah rasanya sedengki ini.

Diatas ranjang, kadang saya terpikir, “Kenapa harus sekarang? Siapa yang menularkan? Saya selalu mematuhi protokol kesehatan. Memakai masker seharian di kantor, menghindari keramaian dan mencuci tangan setiap memasuki kantor di wastafel yang selalu dilewati oleh pegawai lainnya. Banyak orang yang saya temui di jalanan dengan masker dibawah lubang hidung, kenapa bukan salah satu diantara mereka?” Ternyata saya tidak sendiri. Keluarga juga keheranan saat saya yang selalu menggunakan masker dan menyuruh mereka untuk memakai masker malah menjadi orang yang terinfeksi.

Pertanyaan ini dan itu terus berseliweran dikepala, hingga pada satu titik saya pikir jika saya ikut abai dalam memakai masker, mungkin saya akan terinfeksi lebih awal, pada saat penanganan penyakit ini sedang parah-parahnya atau saya malah menularkan kepada orang lain. Toh saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk melindungi diri. Berpikir bahwa usaha maksimal selalu membuahkan hasil yang diinginkan adalah sia-sia. Terlebih dalam konteks ini adalah kesehatan. Selepas itu, saya mulai menerima keadaan dan menikmati liburan di rumah sakit.

Sehat itu Mahal

Mata saya membelalak saat menerima tagihan rumah sakit dengan nilai setara gaji selama beberapa bulan bekerja. Meskipun tahu bahwa asuransi korporat akan melunasinya, nilai itu rasanya terlalu besar. Apakah orang lain juga membayar dengan nominal yang sama dengan saya? Sebulan setelah dinyatakan negatif, saya masih mengalami batuk. Long covid. Lebih dari seratus pil yang sudah saya konsumsi, ditambah dengan herbal yang dikirimkan oleh keluarga. Tidak hanya itu, saya juga harus melakukan check up karena tingkat kekentalan darah yang sangat tinggi. Uang, uang dan uang. Semuanya butuh uang.

Sehat itu mahal. Tiga kata itu menampar lebih keras saat jatuh sakit. Saya punya kebiasaan mencatat semua pengeluaran secara rinci, maka bisa saya pastikan bahwa kalimat itu valid. Covid-19 memaksa saya untuk menyunkil tabungan untuk menyambut anak pertama, hanya menyungkil sedikit. Mujurnya, saat itu saya memiliki asuransi dan dana darurat. Selain asuransi kantor dan BPJS tentunya, saya juga mengikuti program Kitabisa Saling Jaga. Jadi saat ada item yang tidak ditanggung oleh asuransi kantor saat perawatan, saya dapat menggunakan dana segar dari Kitabisa Saling Jaga. Proteksi ganda. Disini saya baru merasakan bahwa asuransi dan dana darurat sangat penting.

Memento Mori

Setelah sebulan keluar dari rumah sakit, saya akhirnya terbebas dari batuk setelah tiga detik berhenti bernapas. Selain obat-obatan, hal penting lainnya dalam penyembuhan adalah latihan bernapas. Itu sangat membantu dalam membuka jalan napas. Latihan napas yang seperti apa? Ada banyak video latihan pernapasan dalam mengobati Covid-19 yang tersebar di Youtube, namun yang saya gunakan adalah yang satu ini. Terima kasih banyak dr. Yose Waluyo.

Ada cinderamata yang ditinggalkan oleh Covid-19 dikepala saya, memento mori. Ingatlah kematianmu. Rasanya cukup dekat dengan kematian pada saat itu sebab kekentalan darah saya tujuh kali diatas normal. Takut jelas ada namun apakah saya siap jika waktunya telah datang? Apa yang akan saya tinggalkan untuk keluarga? Jawabannya pasti, tidak siap. Tidak ada yang siap.

Tinggalkan komentar